Kusambut pagi dengan tulus
Walau hati terasa bulus
Tapak ku lewati
Demi sebuah perih di hati
Rimbunan pekarangan nan segar
Pun tak bisa buat syaraf ini tegar
Sanggup menjerit, letih
Tak sekalipun kau dengar
Bisa berlari, sudah
Tak sekejap pun kau toleh
Biasa terluka, sakit
Tak pernah kau berhenti
Sumpah mati, cukup
Itupun tak pernah bisa
Buat mu mencerca
Tuhan,
Harus berapa kali ku katakan?
AKU CAPEEEEKKKKKKKK!!!!!!!!!!!!!!!
Aku muak dengan bayang kehadiran mereka.
Perut ku terus berkecamuk ….
Berlomba siapa yang lebih dahulu keluar
Dari faring yang berucap ini.
Takdir ku kah?
Atau karena Seonggok daging ini
hanyalah “spesies gagal”
yang tidak bisa berjumpa Sang Fortuna.
Sekarang salah kah ku tuk meludahinya
Lewat bola mata kecil,
yang selama ini mendampingi
Melihat cakrawala
Atau harus terus ku pendam.
Kutinggal bertahun lamanya.
Lalu menjadi Borok busuk yang hina.
Serta
Tanpa arti ………….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar